perilaku organisasi

Syllabus VI

Teori Motivasi dan Konsep Konsep Dasar Motivasi (bag I)

lilisulastri lagut

Sumber daya manusia adalah salah satu faktor penting dalam suatu perusahaan, organisasi atau lembaga untuk menjalankan segala kegiatan. Agar proses kegiatan ini berjalan sesuai dengan keinginan perusahaan, maka dibutuhkan pegawai pegawai yang memiliki kemampuan dan kemauan yang tinggi.

Stephen P Robbin (1996:198) mendefinisikan motivasi : kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi ke arah tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi sesuatu kebutuhan individual”.

Definisi tersebut memiliki tiga unsur kunci, yaitu upaya/effort, tujuan organisasi/organizational goals, dan kebutuhan/need. Unsur effort, merupakan ukuran intensitas, bila seseorang termotivasi, maka ia akan mencoba sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang dinginkannya. Upaya yang tinggi dan pekerjaan disalurkan pada arah yang  benar dan bermanfaat    akan membawa pada hasil kierja yang tinggi dan menguntungkan bagi perusahaan.dengan mempertimbangkan kualitas dan upaya(effort) maupun intensitasnya, dan konsisten dengan arah dan tujuan organisasi (organizational goals) maka motivasi menjadi sangat penting posisinya sebagai sebuah proses pemenuhan kebutuhan[1].

Sedangkan kebutuhan (needs) adalah suatu keadaan internal yang menyebabkan  hasil hasil tertentu tampak menarik. Suatu kebutuhan yang tak terpuaskan akan menciptakan tegangan tegangan yang merangsang dorongan didalam diri tiap individu. Dorongan ini menimbulkan suatu prilaku pencarian untuk menemukan tujuan tujuan tertentu yang jika tercapai kebutuhan tersebut, maka akan terjadi pengurangan tegangan.

Pegawai yang termotivasi berada dalam kondisi tegang,untuk mengendurkan tegangan ini,mereka mengeluarkan upaya. Makin besar tegangan, makin tinggi tingkat upaya itu.jika upaya ini berhasil menghantar  pada pemenuhan kebutuhan tersebut, maka tegangan akan dikurangi. Karena proses motivasi ini kepentingannya dengan prilaku kerja, maka pengurangan tegangan harus diarahkan  pada tujuan tujuan organisasi dan motivasi menjadi persyaratan  bahwa kebutuhan individu  itu sesuai (compatible) dan konsisten dengan tujuan organisasi.

Motivasi seorang pegawai untuk bekerja biasanya didasarkan pada kebutuhan  yang berbeda. Sesuai dengan tingkat pendidikan dan kondisi ekonominya. Orang yang semakin terdidik dan semakin independen secara ekonomi, maka sumber motivasinya akan berbeda. Tidak hanya didasarkan pada formal authority and financial incentives , ada faktor lain seperti kebutuhan untuk berkembang (growth and achievment).

Motivasi juga dipengaruhi oleh faktor faktor lain:

  • faktor individual, terdiri dari kebutuhan kebutuhan (needs), tujuan tujuan (goals), sikap (attitude), dan kemampuan (ability)
  • faktor organisasional, sementara  faktor organisasional  meliputi: pembayaran gaji (pay), kemananan pekerjaan (job security), hubungan sesama pekerja (co-workers),pengawasan (supervision),pujian (praise) dan pekerjaan itu sendiri (job it self)

Beberapa teori motivasi

Terdapat sejumlah teori yang membahas tentang motivasi pegawai dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Teori teori tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kategori utama, yaitu: 1).  content 2). Process

content theory :

Teori content meliputi : teori teori kebutuhan, antara lain teori kebutuhan Maslow (Maslow’s Hierarchy of needs theory),Herzberg’s TwoFactors theory, McClelland’s need Achievement theory, dan ERG theory oleh Alderfer.

Maslow’s Hierarchy of Needs Theory

Teori motivasi yang paling di kenal baik adalah hierarki kebutuhan Abraham Maslow. bahwa kebutuhan manusia terdiri atas lima bagian  yang tersusun dalam satu hierarki.

  1. fa’ali (fisiologis atau physicological needs): antara lain rasa lapar,haus, perlindungan (pakaian, perumahan),seks dan kebutuhan fisik lain. Dalam  perusahaan atau organisasi, kebutuhan kebutuhan dalam tingkat ini berupa uang, liburan, program pensiun,masa istirahat,lingkungan kerja yang nyaman dan aman,.
  2. kebutuhan keamanan dan keselamatan (safety and securiy needs),kebutuhan akan kebebasan dari ancaman,baik ancaman lingkungan dan ancaman lain. Dalam perusahaan atau organisasi,  kebutuhan ini dapat berupa keamanan bekerja,senioritas, kondisi kerja yang aman dan nyaman, tunjangan tambahan, asuransi, program program pemberhentian kerja, uang pesangon
  3. kebutuhan rasa memiliki (social needs). Kebtuhan akan cinta, kasih sayang, rasa dimiliki,sense of belonging, diterima baik oleh setiap komunitas, dan friendship.dalam organisasi , kebutuhan ini  dapat berupa kelompok kerja, team baik secara formal atau informal
  4. kebutuhan akan harga diri (esteem needs). Kebutuhan akan penghargaan diri dan penghargaan dari orang lain, harga diri, otonomi,dan prestasi merupakan faktor internal, sementara seperti pengakuan status, dan perhatian merupakan faktor eksternal. Dalam organisasi, kebutuhan ini berupa reputasi diri, pengakuan, gelar, simbol status, tanggung jawab, promosi, dan apresiasi.
  5. kebutuhan aktualisasi diri (self  actualization needs). Kebutuhan untuk mewujudakn/mengaktualisasikan diri  dengan memaksimalkan penggunaan kemampuan,keahlian, dan potensi sehingga kepuasan diri terpenuhi.

Untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, maka kebutuhan sebelumnya atau kebutuhan yang lebih rendah harus sudah terpenuhi atau terpuaskan. Karena apabila kebutuhan yang lebih rendah atau sebelumnya sudah terpenuhi, maka kebutuhan tersebut tidak menjadi penting lagi. Maslow juga menyatakan bahwa individu yang berada pada tingkat pemenuhan kebutuhan  kedua yaitu safety dan security, maka sebagian besar kemungkinan termotivasi olebh uang. Teori maslow juga menjelaskan bahwa prilaku manusia  didorong oleh stimuli internal dan eksternal tertentu. Ada tiga variabel utama dalam menjelaskan prilaku pegawai:

  1. employee needs, bahwa sejumlah pegawai mempunyai sejumlah kebutuhan yang hendak dipenuhi, berkisar pada: 1) existense (biological and safety). b) relatedness (affection,companionship and influence), dan c) growth (achievment and self actualization)
  2. organizational incentives, bahwa organisasi  mempunyai sejumlah rewards untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pegawai. Reward ini mencakup: 1)substantive rewrads (pay, job security, and physical working conditions), 2) interactive rewards (co-worker ,supervision, praises, and recognition ) 3). Intrinsic rewards (accomplishment, challenge, and responsibility)
  3. perceptual outcome : bahwa pegawai biasnaya mempunyai sejumlah persepsi mengenai : a) nilai dari reward organisasi. b) hubungan antara performansi dengan reward dan c) kemungkinan yang bisa dihasilkan mellaui usaha usaha mereka dalam performansi kerjanya.

Herzberg’s Two factor Theory

Teori ini mengungkapkan bahwa kebutuhan manusia terbagi menjadi dua kebutuhan,  yakni sebagai hygiene factors dan motivators. Hygiene factors disebut sebagai maintenance factors atau dissatisfier. Sedangkan  motivators disebut sebagai satisfier.

Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Herzberg ditemukan bahwa ada dua rangkaian kondisi. Pertama, kondisi ekstrinsik yaitu suatu kondisi yang menghasilkan ketidakpuasan jika kondisi ekstrinsik itu tidak ada. Kondisi ekstrinsik ini merupakan faktor yang membuat orang merasa dissatisfied atau tidak puas. Atau dengan kata lain  disebut juga dengan hygiene factors.

Herzberg mengungkapkan  bahwa hygiene factors diperlukan untuk mempertahankan suatu keadaan  “ karena tidak adanya ketidakpuasan”kedua, kondisi instrinsik yang dapat dikatakan  sebagai isi pekerjaan (job content),keberadaan kondisi ini dalam suatu pekerjaan akan menggerakkan tingkat motivasi kerja yang kuat sehingga menghasilkan kinerja yang baik, tetapi sebaliknya  jika kondisi ini tidak ada dalam suatu pekerjaan, maka tidak akan menimbulkan rasa ketidakpuasan yag berlebihan, kondisi intrinsik ini dapat disebut sebagai motivator atau pemuas.

McClelland’s Theory of Needs

Teory ini berfokus pada tiga jenis kebutuhan:

  1. need for achievement; the drive to excel,to achieve in relation to a set of standards,to strive to succeed.pada tingkatan, individu mempunyai keinginan untuk berbuat sesuatu lebih baik atau lebih efisien dari perbuatan atau tindakan sebelumnya.
  2. need for powerthe need to make other behave in a way that they would not have behaved otherwise. Kebutuhan ini adalah suatu keinginan untuk mempunyai pengaruh dan mempunyai kontrol terhadap orang lain serta lebih condong memperhatikan prestise daripada efektivitas kinerja
  3. need for afiliation ; the desire for friendly and close iterpersonal  relationship. Pada tingkat kebutuhan yang ketiga ini, individu mempunyai dorongan akan persahabatan dan lebih senang akan situasi yang kooperative dari pada situasi yang kompetitif

Alderfer’s 3-Level Hierarchy

Clayton P.Alderfer menyokong teori Maslow yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia disusun berdasarkan hierarki. Alderfer’s 3-Level Hierarchy dapat juga disebut sebagai teori ERG dimana teori ini menyatakan  bahwa kebutuhan manusia terdiri dari tiga tingkatan yang tersusun dalam suatu hirarki:

  1. tingkatan pertama, Eksistensi (E), yaitu kebutuhan yang dipuaskan oleh faktor faktor seperti makanan, air, udara, upah, kondisi kerja
  2. tingkatan kedua, Relatedness (R), atau ketertarikan. Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang dipuaskan oleh hubungan sosial dan hubungan antar pribadi yang bermanfaat
  3. tingkatan ketiga, Growth (G), atau pertumbuhan. Yaitu suatu kebutuhan dimana individu merasa puas dengan membuat suatu kontribusi  yang kreatif dan produktif

Leave a Reply